Rabu, 23 Juli 2008

GERONTIK

Teori Rogers

Dalam teorinya, Martha Rogers (1970) mempertimbangkan manusia (kesatuan manusia) sebagai sumber energi yang menyatu dengan alarn semesta. Manusia berada dalam interaksi yang terus-menerus dengan lingkungan (Lutjens, 1995). Selain itu, manusia merupakan satu kesatuan utuh, memiliki integritas diri dan menunjukkan karakteristik yang lebih dari sekedar gabungan beberapa bagian (Rogers, 1970). Manusia yang utuh merupakan “empat sumber dimensi energi yang diidentifikasi oleh pola dan manifestasi karakteristik spesifik yang menunjukkan kesatuan dan yang tidak dapat ditinjau berdasarkan bagian pembentuknya” (Marriner-Tomey, 1994). Keempat di­mensi yang digunakan oleh teori Rogers - sumber energi, keterbukaan, keteraturan dan pengorganisasian, dan empat dimensionalitas manusia - digunakan untuk menentukan prinsip mengenai bagaimana manusia berkembang.

Pada intinya Rogers memandang keperawatan sebagai ilmu dan mendukung adanya penelitian keperawatan. Oleh sebab itu keperawatan mengembangkan pengetahuan dari ilmu-ilmu dasar dan fisiologi, begitu juga dengan ilmu keperawatan itu sendiri:

Ilmu keperawatan bertujuan untuk memberikan inti dan pengetahuan abstrak untuk mengembangkan penelitian ilmiah dan analisis Iogis dan kemampuan menerapkannya dalam praktik keperawatan. Inti pengetahuan ilmiah keperawatan merupakan hasil penemuan terbaru mengenai keperawatan. Keperawatan merupakan iImu tentang humanistik.

Teori Orem

Dorothea Orem (1971) rnengembangkan definisi keperawatan yang menekankan pada kebutuhan klien tentang perawatan diri sendiri. Orem menggambarkan filosofi tentang keperawatan dengan cara seperti berikut:

Keperawatan memiliki perhatian tertentu pada kebu­tuhan manusia terhadap tindakan perawatan dirinya sendiri dan kondisi serta menatalaksanakannya secara terus-mene­rus dalam upaya mempertahankan kehidupan dan kesehat­an, pcnyembuhan dan penyakit atau cedera dan mengatasi hendaya yang ditimbulkannya. Perawatan diri sendiri dibutuhkan oleh setiap manusia, baik laki-laki, perempuan mau­pun anak-anak. Ketika perawatan diri tidak dapat dipertahan­kan, akan terjadi kesakitan. atau kematian. Keperawatan kadang-kadang berupaya mengatur dan mempertahankan kebutuhan perawatan diri secara terus menerus bagi mereka yang secara total tidak mampu melakukannya. Dalam situasi lain, perawat membantu klien untuk mempertahankan ke­butuhan perawatan diri dengan melakukannya sebagian tetapi tidak seluruh prosedur, melalui pengawasan pada orang yang membantu klien dan dengan memberikan insitruksi dan pengarahan secara individual sehingga secara bertahap klien mampu melakukannya sendiri.

Jadi tujuan dari teori Orem adalah membantu klien melakukan perawatan diri sendiri. Menurut Orem, asuhan keperawatan diperlukan ketika klien tidak mampu meme­nuhi kebutuhan biologis, psikologis, perkembangan dan sosial. Perawat menilai mengapa klien tidak mampu me­menuhi kebutuhan tersebut, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhannya dan menilai seberapa jauh klien mampu memenuhinya sendiri, Tujuan dari keperawatan adalah untuk meningkatkan kemampuan klien memenuhi kebu­tuhannya secara mandiri (Hartweg, 1995).

Teori King

Tujuan yang ingin dicapai dan teori Imogene King (1971, 1981, 1987) berfokus pada interaksi tiga sistem: sistem personal, sistem interpersonal, dan sistem sosial. Ketiga­nya membentuk hubungan personal antara perawat dan klien. Hubungan perawat dan klien merupakan sarana dalam pemberian asuhan keperawatan, di mana proses interpersonal dinamis yang ditampilkan oleh perawat dan klien dipengaruhi oleh perilaku satu dengan yang lain, dernikian juga oleh sistem asuhan kesehatan yang berlaku (King, 1971, 1981). Tujuan perawat adalah memanfaatkan komunikasi untuk membantu klien dalam menciptakan dan mempertahankan adaptasi positif terhadap lingkungan.

Teori Neuman

Betty Neuman (1972) mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dan konsep holistik dan pendekatan sistem terbuka (Marriner-Torney, 1994). Bagi Neuman, manusia merupakan makhluk dengan kombinasi kompleks yang dinamis dan fisiologis, sosiokultural dan variabel perkembangan yang berfungsi sebagai sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka, manusia berinteraksi, beradaptasi dengan dan disesuaikan oleh lingkungan, yang digambar­kan sebagai stresor (Chinn dan Jacobs, 1995). Lingkungan internal terdiri dari segala sesuatu yang mempengaruhi (intrapersornal) yang berasal dari dalam diri klien lingkungan eksternal segala sesuatu pengaruh yang berasal di luar diri klien (interpersonal). Pembentukan lingkungan merupakan usaha klien untuk menciptakan lingkungan yang aman, yang mungkin terbentuk oleh mekanisme yang disadari maupun yang tidak disadari (Reed, 1995). Tiap lingkungan memiliki kemungkinan terganggu oleh stresor yang dapat merusak sistem. Model Neuman mencakup stresor intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal (Neuman, 1982, 1995; Marriner-Tomey, 1994).

Neuman meyakini bahwa keperawatan memperhatikan manusia secara utuh, Tujuan dan keperawatan adalah membantu individu, keluarga dan kelompok dalam men­capai dan mempertahankan tingkat kesehatan yang optimal (Neuman dan Young, 1972). Perawat mengkaji, mengatur dan mengevaluasi sistem klien. Perawatan berfokus pada variabel-variabel yang mempengaruhi res­pons klien terhadap stresor (Chinn dan Jacobs, 1995). Tindakan perawatan terdiri dari pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer berfokus pada peningkatan pertahanan tubuh melalui identifikasi faktor-­faktor risiko yang potensial dan aktual terjadi akibat tresor tertentu. Pencegahan sekunder berfokus pada pe­nguatan pertahanan dan sumber internal melalui penetapan prioritas dan rencana pengobatan pada gejala-gajala yang tampak, sedangkan pencegahan tersier berfokus pada proses adaptasi kembali. Prinsip dan pencegahan tersier adalah untuk memberikan penguatan pertahanan tubuh terhadap stresor melalui pendidikan kesehatan dan untuk membantu dalam mencegah terjadinya masalah yang sama (Neuman, 1982; Torres, 1986; Marriner-Tomey, 1994; Chinn dan Jacobs, 1995).

Teori Roy

Teori adaptasi Suster Callista Roy (Roy dan Obloy, 1979; Roy, 1980, 1984, 1989) memandang klien sebagai suatu sistem adaptasi. Sesuai dengan model Roy, tujuan dari keperawatan adalah membantu seseorang untuk beradap­tasi terhadap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan hubungan interdependensi selama sehat dan sakit :(Marriner-Tomery, 1994). Kebutuhan asuhan keperawatan muncul, ketika klien tidak dapat beradaptasi terhadap kebutuhan lingkungan internal dan eksternal. Seluruh individu harus beradaptasi terhadap kebutuhan berikut:

1. Pemenuhan kebutuhan fisiologis dasar

2. Pengembangan konsep diri positif

3. Penampilan peran sosial

4. Pencapaian keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan

Perawat menentukan apakah kebutuhan di atas menye­babkan timbulnya masalah bagi kilen dan mengkaji

bagaimana klien beradaptasi terhadap hal tersebut. Kemu­dian asuhan keperawatan diberikan dengan tujuan untuk membantu klien beradaptasi.

Teori Watson

Filosofi Watson tentang asuhan keperawatan (1979, 1985, 1988) berupaya untuk mendefinisikan hasil dan aktivitas keperawatan yang berhubungan dengan aspek humanistik dan kehidupan (Watson 1979; Marriner-Tomey, 1994). Tindakan keperawatan mengacu Iangsung pada pemahaman hubungan antara sehat, sakit dan perilaku manusia. Keperawatan memperhatikan peningkatan dan mengem­balikan kesehatan serta pencegahan terjadinya penyakit.

Model Watson dibentuk melingkupi proses asuhan keperawatan, pemberian bantuan bagi klien dalam men­capai atau mempertahankan kesehatan atau mencapai kematian yang damai. Intervensi keperawatan berkaitan dengan proses perawatan manusia. Perawatan manusia membutuhkan perawat yang memahami perilaku dan respons manusia terhadap rnasa!ah kesehatan yang aktual ataupun yang potensial, kebutuhan manusia dan bagai­mana berespons terhadap orang lain dan mernahami kekurangan dan kelebihan klien dan keluarganya, seka­ligus pemahaman pada dirinya sendiri. Selain itu perawat juga memberikan kenyamanan dan perhatian serta empati pada klien dan keluarganya. Asuhan keperawatan ter­gambar pada seluruh faktor-faktor yang digunakan oleh perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan pada klien (Watson, 1987).

1 komentar:

Anonim mengatakan...

bagus juga materinya